Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts

Friday, 6 April 2018

CONTOH SINOPSIS FTV

DICULIK CINTA TIMO
Kila RC

Ratna baru saja berduka. Kedua orangtuanya meninggal dalam kecelakaan. Ratna yang sebatang kara, akhirnya memutuskan mengikuti Bi Sara, adik dari papanya, ke kota kecil di sekitar Bogor. Awalnya, Ratna ragu. Dia kan sudah terbiasa hidup dengan segala kemudahan di kota. Apa iya Ratna bisa cepat beradaptasi? Bi Sara pun meyakinkan, Ratna pasti bisa. Karena Ratna, meski anak tunggal, tapi bukan gadis yang manja dan semua maunya dilayani.
Mereka pun pergi ke daerah Bogor. Tapi alangkah kagetnya, saat mobil mereka yang disopiri Tono, asisten sekaligus  sopir papanya Ratna,  dihadang perampok yang dikepalai Timo. JRENG! Tentu saja Ratna dan Bi Sara kaget setengah mati. Sumpah, seumur-umur baru kali ini dirampok. Dan anehnya, mereka juga menculik Ratna. Hanya Ratna! Sementara Bi Sara dibiarkan bersama Tono yang dibekap mulutnya pake kain.

Ratna yang diculik Timo berontak. Dia bilang Timo salah culik orang! Dia baru berduka kedua orangtuanya meninggal. Tapi Timo tidak percaya. Dia pikir, Ratna adalah Sari anaknya Hermawan, musuh orangtua Timo yang sudah mengambil paksa tanah milik keluarga Timo. Timo dendam berat pada keluarga Hermawan. Dan jika Ratna memang bukan anaknya Hermawan, Ratna harus bisa membuktikannya. Tapi sial, kartu identitas Ratna ada di dalam tas yang ketinggalan di mobil. Dan buat Timo, ini sudah cukup membuktikan kalo Ratna memang anaknya Hermawan. Aah, Ratna kesal! Lalu katanya, penculik kok nggak tahu siapa yang diculiknya! Dan saat Ratna ditunjukkan foto Sari, Ratna pun bengong. Sari memang sangat mirip dengan dirinya. Mereka seperti kembar! Ratna yang ketakutan, meminta Timo jangan melukainya. Karena Timo ini sangat sinis dan cenderung bersikap kasar padanya. Bikin Ratna keki dan benci karena sudah bilang, Timo salah culik, tetap saja Timo gak percaya!

Dan suatu saat, Ratna berkesempatan melarikan diri. Ratna yang tidak biasa hidup di alam bebas, gak tahu jalan, gak punya makanan, akhirnya malah jatuh sakit. Untungnya Ratna ditolong orang, yang adalah anak buahnya Timo! Aaaaah, Ratna super kesal. Masa Timo lagi, Timo lagi sih?! Tapi Ratna jadi meleleh, saat Timo yang cool, malah merawatnya hingga sehat. Dan Timo menawarkan Ratna kembali pulang. Tentu saja Ratna senang, meski dia nggak ngerti jalan dan harus pulang ke mana? Saat Ratna bilang gak tahu jalan pulang, Timo akan mengantarnya sampai ke rumah, dengan catatan Ratna harus kembali menemui Timo dengan membawa sertifikat tanah yang dicuri oleh Hermawan. JRENG! Ratna pun makin stres. Masa dia harus pulang ke rumah orang yang gak dikenalnya sama sekali?! Apalagi untuk mencuri.  

Sementara itu, Bi Sara dan Tono yang berhasil ditolong orang, juga panik kehilangan keponakannya. Bi Sara menangis sedih. Tono yang polos mencoba menghiburnya, tapi yang ada Tono malah jadi sasaran kesedihan Bi Sara. “Ini gara-gara kamu gak bisa belain kita!” kata Bik Sara kesal. “Lha, Nyonya Muda gimana sih? Saya kan kerempeng begini. Kalo saya melawan mereka yang ada saya malah keok!” Tono membela diri. Dan hari demi hari, Bi Sara hanya bisa sedih. Sampai akhirnya, Tono punya ide, gimana kalo mereka membuat selebaran orang hilang! Bi Sara setuju. Lalu, dibantu Tono, Bi Sara membuat pamflet yang lalu disebar. Saat menyebarkan pamflet ini, Tono sekaligus tepe pada gadis-gadis kampung, dengan mengaku sebagai detektif yang mencari korban penculikan. Tentu saja gadis-gadis pada kagum sama Tono dan berebut dapatin perhatian Tono. Bikin Bi Sara makin pusing karena jadi sering kedatangan gadis-gadis. Apalagi saat Tono mengaku Bi Sara ini ibunya. Ugh, jadi pengen getok aja deh rasanya!

Akan halnya Ratna, yang dibawa Timo ke rumah Hermawan, bingung dan gagap ketika Hermawan menerimanya dengan cemas, karena Hermawan mendengar Timo sedang mengancamnya akan mencelakai Sari. Ratna dengan gugup bilang, dia baik-baik saja. Ratna diterima dengan sangat baik. Bahkan dimanjakan oleh Hermawan dan istrinya. Ratna menempati kamar Sari yang meski anak orang kaya, tapi cenderung jorok. Ratna pun membenahi kamar dan merapikannya. Membuat Hermawan heran. Karena seumur-umur Sari belum pernah merapikan kamar. Lasmi, istri Hermawan juga kaget, melihat Sari begitu luwes menata meja makan, bahkan bisa memasak. Saat ditanya, Ratna bilang, dia ikut kursus.

Di tempatnya, Timo gelisah, saat dua hari, Ratna belum datang. Padahal Ratna kesulitan mencari kesempatan supaya bisa mengambil sertifikat. Timo menduga, Ratna nggak akan menepati janjinya. Timo pun pergi ke rumah Hermawan, sembunyi, menunggu malam tiba. Dan saat melihat Ratna, dia segera menguntit dan menariknya. Ratna kaget. Timo menuduhnya sekongkol dengan Hermawan. Ratna kesal, dia tidak punya kesempatan.

Hermawan tiba-tiba mendapat telpon dari Sari. Sari minta kiriman uang karena dia perlu banyak uang. Hermawan tentu saja kaget. Apalagi mengetahui Sari masih berada di luar negeri, tempatnya kuliah. Lalu, siapa Sari di rumah? Hermawan dan Lasmi pun akan mencari tahu. Dan saat Ratna masuk, mereka berpura-pura menyambut Ratna dengan manis. Membuat Ratna heran. Ratna pun makin ketakutan, saat tanpa sengaja mendengar kecurigaan Hermawan dan istri akan dirinya. Ratna makin kalut. Timo mengancamnya, dan Hermawan sudah curiga. Duh, kalo gak dapat sertifikat itu, Ratna bakalan dicelakai Timo.

Akan halnya Timo, dia kaget saat anak buahnya memberikan selembar pamflet tentang penculikan Ratna. Lengkap dengan foto dan identitas Ratna. Timo menduga-duga apa ini hanya akal-akalan Ratna dengan Hermawan? Timo menyuruh anak buahnya menyelidiki. Dan Timo mendapat laporan, mereka salah culik orang. Karena Sari yang asli saat ini masih di Malaysia, kuliah di sana. Jadi benar apa kata gadis yang mengaku bernama Ratna itu?

Malam hari, saat semua tidur, Ratna mindik-mindik ke sebuah ruangan dan membuka lemari penyimpanan untuk mengambil sertifikat tanah. Tapi belum lagi Ratna menutup pintu lemari, Hermawan sudah memergokinya. Ratna pun diinterograsi. Bahkan dibawa ke kelurahan untuk siap diadili dan dilaporkan ke polisi.

Timo yang mendengar, segera berniat menolong Ratna. Namun terlambat. Ratna sudah dibawa ke kantor polisi. Timo pun mengejar Ratna. Dan untung saja, Ratna belum jauh. Timo pun mengaku, semua ini ide dia. Ratna tidak tahu apa-apa. Tapi mereka harus tetap dibawa ke kantor polisi. Timo menghubungi  Bi Sara dan bilang Ratna bersamanya di kantor polisi.
Bi Sara memeluk Ratna dan menangis. Doanya pada Tuhan untuk mengembalikan satu-satunya miliknya, dikabulkan. Bi Sara membawa Ratna pulang setelah menjaminkan bahwa Ratna tidak akan kabur. Sementara itu, Timo masuk sel karena Hermawan. Tapi Timo bilang, kalo bukan karena keserakahan Hermawan, ini semua nggak akan terjadi. Dan hidup Timo nggak akan berantakan. Kuliahnya drop out dan dia serabutan mencari pekerjaan.

Hermawan tercenung. Karena keserakahannya ingin menguasai harta yang bukan miliknya juga, Timo jadi susah, dan seorang gadis asing yang baik dan rajin hampir saja masuk penjara. Saat kembali mengingat apa yang sebenarnya terjadi, Hermawan pun merasa menyesal. Hermawan menemui Timo di penjara dan membebaskannya.

Ratna yang beberapa waktu dekat dengan Timo, meski Timo kadang sinis dan cenderung kasar, Ratna merasa kangen dengannya. Tapi Ratna menepis rasa itu. Timo bukan laki-laki yang baik. “Iya, laki-laki yang baik itu kayak saya, Mbak Ratna,” ujar Tono super pedenya. Ratna melengos. Kata Tono, “Ini buktinya.” Tono merangkul dua gadis cantik yang bersamanya. Bikin Ratna sebel, Tono sok jadi playboy.

Timo keluar dari penjara dan bermaksud minta maaf sama Ratna. Ratna sebenarnya senang. Tapi Bi Sara melarang. Dia tidak sudi Timo yang sudah menculik Ratna dan hampir mencelakainya, meminta maaf. Tapi Ratna yang ternyata sudah jatuh cinta pada Timo, memaafkannya. Tentu saja Bi Sara kesal. Bi Sara berencana membawa kembali Ratna ke Jakarta dan mengirimnya kuliah di luar negeri biar jauh dari Timo. Tapi saat dalam perjalanan menuju Jakarta, Timo kembali menculiknya. Kalo Bi Sara tidak setuju Timo melamar Ratna, Timo akan menculiknya. Dan Ratna setuju saja diculik Timo. Aduuuh! Bi Sara jadi pusing menghadapi dua orang yang sedang kasmaran ini. Dengan sangat terpaksa, Bi Sara merestui dengan syarat : Timo harus kerja yang bener. Timo setuju. Dia janji akan mengelola tanah peninggalan almarhum orangtuanya yang sudah dikembalikan oleh Hermawan.  Dan Hermawan yang sudah jatuh hati akan perilaku Ratna, menawarkan diri menjadi orangtua angkat Ratna. Terus Sari? Sari pasti akan senang, punya kembaran seperti Ratna, kata Hermawan dan istrinya. Aaah, gara-gara diculik Timo, Ratna kembali punya ‘orangtua’.












No comments

Tuesday, 16 August 2016

CERBER : BATAS RUMPUT DAN SALJU BAGIAN 1 HAL 2 & 3

Penulis : Tati Mulyani (Lottati Mulyani)

Pemenang Penghargaan Sayembara Cerber femina 2000 

           Kini, aku kembali setelah lebih dari sepuluh tahun tinggal bersama Bu Yanis. Aku menjadi anak angkatnya. Sebulan sekali dia menjenguk dan memberiku uang pensiun Kakek. Entah kenapa aku bisa mendapatkannya. Kembali Bu Yanis yang mengurus semuanya. Dengan uang itu aku mencoba merintis usaha tanaman hias. Karena, tanpa ijazah, tak memungkinkan bagiku untuk menjadi pegawai kantoran. Paling banter aku cuma jadi buruh tani. Entah kenapa Kakek tak mempunyai niat untuk menyekolahkanku. Ini pun aku tak mengerti.


Teng teng teng! Dentang lonceng menembus gerimis yang telah berganti hujan. Meski deras, suaranya masih terkalahkan oleh suara lonceng gereja.
Aku bergeser. Kutarik daun jendela. Kukunci dengan gerendel. Terakhir kututup daun tirai jendela. Aku masuk kamar. Tidak lama kemudian aku ke luar setelah berganti pakaian.
Kuambil sepasang sepatu karet milik Kakek dari lemari jati tua yang berwarna hitam. Juga mantel hujan yang terlipat rapi di lacinya. Kukenakan semua itu dan melangkah ke luar pintu.
Aku merasa sangat letih menunggu. Berharap selembar masa laluku bisa tertulis kembali. Atau paling tidak segores kalimat yang sama bisa kubaca dengan seseorang.
Gereja sepi. Mungkin umat lebih senang menghadap Tuhan di hari Minggu. Saat Tuhan libur dengan pekerjaanNya? Aku tersenyum sendiri dengan kalimat tolol yang kupikirkan. Cepat-cepat aku berdoa memohon maaf atas pikiranku yang nakal. Dan juga memohon suatu keajaiban dari Tuhan.
Setahuku, dulu misa hanya dilakukan di Minggu pagi saja. Tapi mungkin, sekarang berubah. Seiring perubahan fisik gereja yang kini lebih besar dan bagus dibanding dulu.
Aku merasa seseorang memperhatikanku. Sejak aku melepas sepatu yang berlumpur dan mantel yang basah di teras gereja.
Seorang wanita dengan tergopoh-gopoh duduk di sebelahku. Rambutnya tampak sedikit basah karena hujan. Dia pun segera berdoa. Berharap kehadirannya diterima olehNya.
Dan ketika Madah Tuhan dikumandangkan , serasa ada yang menyiram perasaanku. Rasa sejuk menelusup ke relung-relung hatiku. Sesuatu yang tak pernah kudapatkan selama ini. Apalagi saat Imam membagi hosti, sepertinya berjuta kedamaian akan segera kutelan.
Misa telah selesai. Namun, hujan masih tetap menari di luar. Membuatku enggan untuk menerobosnya. Aku berjalan ke luar. Tepat di depan gereja, berseberangan dengan jalan raya, sebuah rumah masih berdiri. Kali ini dengan penghuni yang berbeda. Dulu di rumah dinas milik Perum Perhutani itu aku sering bermain kartu bersama keluarga Teto. Ibu Teto yang mengajariku. Dan Teto akan mengantarku pulang jika hari telah malam.
Beberapa orang berdiri menunggu hujan. Salah seorang di antaranya ibu tua yang tadi tergopoh-gopoh di sisiku. Wajahnya tampak memelas menatap hujan. Dengan rasa iba aku menghampirinya.
“Ibu pulang ke mana?” tanyaku tanpa basa-basi.
Ibu itu terkejut menatapku. Namun, begitu sadar bahwa aku yang tadi duduk bersamanya, senyum ramahnya mengembang. Dia menyebutkan suatu tempat. Aku pernah mengenal daerah itu. Cukup tak mengenakkan jalan ke sana dalam hujan seperti ini. Terlebih tanpa payung atau pelindung hujan seperti ibu itu.
“Saya bisa mengantar Ibu pulang,” aku menawarkan bantuan.
Ibu itu menatap tak percaya.
“Ibu kenakan saja mantel ini,” kataku sambil mengangsurkan mantel yang sudah agak kering.
“Kau sendiri?” Ragu-ragu wanita itu menerimanya.
“Tidak apa-apa,” sahutku bersungguh-sungguh.
Dengan agak sungkan wanita itu mengenakan mantel. Kami berjalan beriringan. Dan kembali pria yang tadi memperhatikan kejadiranku di dalam gereja menatap sampai kami hilang dari pandangan.
“Saya Harbi,” kata wanita itu mengenalkan diri.
“Conny,” aku menyebut namaku.
“Di mana tempat tinggalmu, Conny?”
“Tidak jauh dari Balai Pertanian,” sahutku seraya menggandeng wanita yang tampak kesulitan berjalan di jalan yang becek itu.
“Berdekatan dengan Mantri Balijati?” Bu Harbi menyebut nama kakekku.
“Saya tinggal di rumahnya.” Dulu Kakek terkenal dengan sebutan Mantri Pertanian oleh orang-orang kampung karena jabatannya sebagai kepala pertanian di situ.
“Kau masih keluarganya?”
“Kebetulan saya cucunya.”
“Benarkah?” tanya Bu Harbi menatapku seakan meneliti.
“Ya.”
“Puji Tuhan,” Bu Harbi mengucap syukur.
“Kenapa, Bu?” tanyaku tak mengerti.
“Nenekmu, istri Mantri Balijati, masih sepupuku. Kami berasal dari Pekalongan. Tapi, Mbak Harti, nenekmu itu, pindah ke Salatiga mengikuti orangtuanya. Di sana dia bertemu kakekmu dan menikah. Sampai kami bertemu lagi di sini. Tapi, tidak dengan nenekmu, melainkan suaminya yang datang membawa cucu,” tutur Bu Harbi singkat.


Aku ingat, berdua Kakek aku datang ke Randublatung, nama kecamatan yang membawahi desa-desa kecil dan terpencil di pinggir hutan. Aku baru lima tahun dan Ibu baru meninggal karena sakit paru-paru. Sebulan setelah Ibu meninggal Bapak menikah lagi dengan wanita, entah siapa, aku tak mengenalnya. Karena tidak ingin cucunya menjadi anak tiri, Kakek membawa aku untuk tinggal bersamanya di Randublatung.
“Kau tidak pernah menemui bapakmu?” tanya Bu Harbi mengusik kenanganku akan Bapak.
“Sejak pindah ke sini saya tidak lagi berhubungan dengan Bapak. Sepertinya Kakek sengaja menjauhkan kami. Mungkin karena Kakek sakit hati lantaran Bapak selalu menyakiti Ibu selama hidupnya,” kataku jujur.
“Bagaimana dengan keluargamu di Salatiga?”
“Itulah, Bu, saya sendiri tidak tahu,” kataku menggeleng pasrah. Kakek tidak pernah bercerita apapun tentang keluarga. Sepertinya Kakek sengaja mengasingkan diri bersamaku di sini.
“Kakekmu asli Salatiga. Ayahnya Belanda yang bekerja di kantor Pegadaian. Mungkin kakekmu pernah bercerita. Dia mempunyai dua orang saudara perempuan. Mereka tinggal di Salatiga dan mempunyai banyak keturunan, tidak seperti kakekmu yang hanya mempunyai ibumu. Ibu saya pernah mengunjunginya sewaktu ibumu menikah dengan bapakmu.”
“Kakek tidak pernah cerita itu semua,” sahutku lirih.
“Tidak pernah?” suara Bu Harbi terdengar tak percaya. Wanita itu menggeleng-geleng, merasa aneh. Seperti juga aku. Kadang-kadang aku merasa aneh sendiri dengan kehidupanku. Entah misteri apa yang dibuat Kakek untukku.
“Itu rumah Ibu, Conny!” Bu Harbi menunjuk rumah papan dari kayu hutan yang diterangi lampu listrik. “Terima kasih kau telah mengantarku pulang dan membiarkan tubuhmu kebasahan begitu,” kata Bu Harbi merasa tak enak hati.
“Tidak apa-apa, Bu. Saya malah telah menemukan saudara. Dan itu imbalan yang sangat berharga buat saya,” kataku tulus.
Aku pun bergegas pergi, diikuti pandangan Bu Harbi yang merasa iba.

#Bersambung ke halaman berikutnyaaa...




No comments

Friday, 12 August 2016

CERBER : BATAS RUMPUT DAN SALJU BAGIAN 1 HAL 1

Penulis : Tati Mulyani (Lottati Mulyani)
Pemenang Penghargaan Sayembara Cerber femina 2000
Rumah panggung dari kayu itu masih tampak kokoh, meski beberapa bagian kayunya mulai keropos. Pintunya tertutup rapat, namun daun jendela di kirinya terbuka lebar. Aku termangu di situ menatapi gerimis yang turun malu-malu.
Bunyi rintik hujan terdengar berirama di atap. Menyenandungkan keriaan saat hujan, membuat rumput liar seakan menari riang karena mendapat kesegaran.
Seirama rintik hujan menari pula bayangan di mataku. Bayangan yang mulai membentuk lamunan. Di sini, di tempat yang sama, saat gerimis yang sama pula, aku menatapi rerumputan liar.
“Hijau adalah kedamaian, Nak,” begitu menurut Kakek sambil menunjuk rumput di halaman.
Aku menatap Kakek dengan tak mengerti. Dia mengelus rambutku dan berkata, “Suatu saat nanti kau akan tahu.”
Aku menggeleng. Tak yakin dengan ucapan itu, karena aku belum paham. Juga sampai saat ini, di usiaku yang sudah berpangkal dua.
Ke hutan bersama Kakek adalah saat menyenangkan. Serasa berekreasi. Ditemain Renggani, anak Dokter Satrio, dokter puskesmas yang pernah mengobatiku karena sakit cacar. Bersamanya aku membuat kemah. Sementara Kakek sibuk mencari bahan penelitian, aku dan Gani malah sibuk mencari jejak seperti anggota Pramuka.
Dengan Gani pula aku jadi bersemangat ke gereja. Lebih menyenangkan meski hanya jalan kaki. Kalau aku pergi bersama Kakek, akan terasa membosankan bagiku. Bukannya cepat pulang selesai misa, Kakek malah asyik bercengkerama dengan Romo dari Cepu. Beliau memang hanya datang ke kota kami sekali dalam dua pekan, untuk memimpin misa. Jadi memang kehadirannya sangat dibutuhkan umat di gereja.
Pulang dari gereja kami akan main di sawah. Duduk di dangau membaca buku cerita yang Gani bawa dari kota. Sambil mengusir burung atau membuat seruling dari tangkai padi saat musim panen. Tapi, semua itu kami jalani saat libur sekolah Gani.
Dulu Gani pernah bertanya kenapa di usia sepuluh tahun aku belum juga bersekolah, seperti anak-anak yang lain. “Padahal kakekmu punya banyak uang,” katanya membuatku menjadi sedih.
Aku tidak tahu harus menjawab apa. Saat pagi hari aku menyiram tanaman, banyak anak dengan seragam sekolah, ada beberapa yang tanpa alas kaki, berjalan melewati depan rumah Kakek. Mereka akan memanggil namaku dan melambaikan tangan. Lalu aku membalasnya. Dan itu menyenangkan sebelum Gani menanyakan hal itu.
Begitu sampai di rumah kusampaikan hal ini pada Kakek dengan mata basah.
“Lho, Ibu Yanis itu guru sekolah Koko. Koko tidak perlu sekolah jauh dari rumah. Mereka pergi ke sana karena tidak mempunyai guru di rumah,” jawab Kakek, membuat airmataku terhenti.
Kuingat Bu Yanis, salah seorang teman Kakek yang membuka kelas untukku tiga kali dalam seminggu. Diajarinya aku menulis, berhitung, bahasa dan tentang tanaman yang menjadi bagian pekerjaannya.
Saat kembali bersama Gani, dengan bangga kukatakan bahwa selama ini aku bersekolah di rumah. Tapi, Gani malah tertawa mendengarnya. Aku tidak tahu apa yang membuatnya merasa lucu. Yang penting aku sudah menjawab pertanyaannya. Itu kan sudah cukup!
Bu Yanis gemar sekali menceritakan masa kecilnya di negeri bersalju. Dia seorang peranakan Jawa-Belanda. Ibunya orang Semarang, ayahnya serdadu, dan keduanya bertemu sebagai perawat dan pasien sewaktu perang.
Musim salju, bola salju, main ski, baca buku dan coklat hangat adalah kumpulan ceritanya. Dan aku akan terkagum-kagum mendengarnya sambil berangan-angan suatu saat aku akan tinggal di sana.
“Apakah rumput dan salju bisa bertemu?” tanyaku membayangkan rumput di halaman ditaburi salju yang putih bersih. Alangkah cantiknya!
“Tentu. Karena rumput bisa hidup dalam segala musim. Tapi, dia tak akan terlihat karena salju akan menutupinya. Yang terlihat hanya salju di mana-mana. Sampai dia harus dikeruk dengan mobil khusus karena menutup jalan dan sering membuat kecelakaan,” tutur Bu Yanis.
“Kalau begitu, alangkah jahatnya salju,” ujarku sedih.
“Tidak juga. Karena Tuhan menciptakan segala sesuatunya dengan kekurangan dan kelebihan,” Bu Yanis mengakhiri cerita.
Kucoba menelan kalimat terakhir itu meski aku belum tahu.
Natal pun salah satu peristiwa yang menyenangkan. Sehari sebelum Natal aku bersama Kakek akan pergi ke Cepu, membeli hadiah untuk saling ditukarkan. Hadiah ditukar dengan hadiah dari Gani, Bu Yanis, Teto anak Pak Miko, pegawai Perhutani yang tinggal di depan gereja, dan beberapa teman sekolah Minggu. Hadiahnya tidak mahal, tapi pasti berguna, seperti buku, penghapus, pensil atau pulpen. Tapi, yang sering, aku mendapat hadiah yang lebih bagus dari benda-benda itu. Dari Gani dan Teto. Bahkan Gani pernah memberiku patung Santa Claus lengkap dengan kereta dan rusanya dari keramik Cina.
“Ini juga sebagai kenang-kenangan untukmu,” katanya membuatku bingung.
“Memang kenapa?”
“Aku tidak akan di sini lagi. Bulan depan Papa pindah tugas ke kota lain,” jawab Gani dengan hati-hati.
Rasanya ada yang terbang dan lepas saat Gani mengucapkan maksudnya. Kubayangkan aku akan sendiri ke gereja atau pergi bersama Kakek dan menunggunya. Betapa akan membosankan!
“Kau bisa pergi ke gereja bersama Teto,” usul Gani seperti bisa menebak pikiranku.
Aku tak habis pikir. Selama ini Gani selalu memusuhi Teto. Bahkan Teto pernah dipukulnya hanya karena Teto duduk bersamaku di sekolah Minggu. Sebenarnya salah Gani sendiri. Saat kutunggu di rumah dia tak datang-datang, akhirnya aku pergi ke gereja sendiri. Aku bertemu Teto di depan gereja. Aku pun bersamanya dan duduk sebangku. Lalu tiba-tiba Gani muncul. Wajahnya tak sedap menatap kami berdua. Dan tanpa banyak cerita terjadilah aksi penonjokan itu.
“Kau tidak apa-apa?” tanyaku meyakinkan Gani.
“Rasanya dia baik padamu.”
Kalau kuingat lagi, kalimat itu terdengar pahit dan sangat pasrah.
“Tapi aku janji, aku akan datang kembali dan membawamu pergi dari sini untuk tinggal bersamaku. Kau mau?” Gani menatapku seperti orang dewasa menatap kekasihnya.
“Aku pasti mau!” sahutku membayangkan seperti yang pernah Bu Yanis ceritakan. Seolah saat itu Gani akan pergi ke sana.
“Kau janji untuk itu?” pinta Gani.
“Ya, aku janji. Aku tidak akan pergi ke sana sebelum kau menjemputku!” kataki tanpa berpikir panjang.
Sepeninggal Gani, Teto menjadi penggantinya. Tapi, mereka sangat berbeda. Teto tak pernah memaksaku berbuat seperti yang dia mau. Dia membolehkan aku berbuat sesukaku. Tidak seperti Gani yang akan berteriak marah jika aku tak sependapat dengannya.
Namun, benang yang kuurai untuk Teto harus kugulung lagi ketika Kakek mulai sakit-sakitan. Satu hal yang paling kutakuti pun terjadi. Kakek harus dirawat di rumah sakit pemerintah di Blora. Kami pun boyongan dengan bantuan Bu Yanis. Dia yang mengurus semuanya. Tanpa pamrih apa-apa. Dia begitu setia.
“Ibu sayang padanya?” tanyaku suatu saat.
Wanita itu menatapku. Lalu lengannya yang halus mulus merengkuhku ke dalam pelukan. Meluncurlah segala keinginan dari dalam hatinya. Kurasakan ada yang menghangat di kepalaku. Ibuku menangis.
“Aku ingin menemaninya hingga akhir hidupnya,” ujar Bu Yanis dalam isak tangisnya.
Aku percaya, Bu. Rasanya aku sudah mulai mengerti akan hal ini.
Cerita milik Kakek pun berakhir. Dan aku benar-benar sendiri.
Bersambung ke halaman berikutnya yaa…
1 comment

Tuesday, 24 February 2015

Contoh Sinopsis FTV

Sinopsis FTV Frame Ritz
SI MINAH BIBIK CANTIK
(Modifikasi dari FTV Bibik Saingan Gue)
Kila RC & Layung Martha

Leah uring-uringan. Pasalnya, Mina sepupunya dari kampung pindah sekolah ke tempatnya. Leah kebat-kebit karena tampilan Mina ndeso banget, menurut Leah. Rambut panjang ekor kuda, rok seragam di bawah lutut dengan kemejanya yang berlengan panjang itu. Garis besarnya Leah malu!

Iyalah. Bandingin saja sama penampilan Leah yang Korean style abis. Rok pendek, kaos kaki panjang dan rambut warna-warni, cantik tik. Bahkan, Leah pernah menyabet Lomba Fotogenik Remaja. Hadeeeeh, masa punya sodara yang gayanya kayak jaman kuda?

Saat masuk sekolah, Leah sengaja menghindari Mina. Kalo terpaksa barengan, Leah akan berjalan duluan dan pura-pura nggak kenal. Saat Dina tanya siapa Mina, dengan cepat Leah bilang dia anak bibik pembantunya. Namanya Mina-H, dengan huruf H besar di belakang. Dina pun memuji-muji kalo ortu Leah baik banget. Mau nyekolahin anak pembantunya di SMU favorit.

Mina sendiri, tidak merasa terganggu dengan sikap Leah. Sifatnya yang ramah, lucu dan kadang terlalu polos, membuatnya disuka banyak teman barunya. Apalagi dia cukup pintar, sehingga bisa menarik perhatian. Tentu saja, Leah jadi kesal! Dan untuk membalasnya, Leah selalu minta dilayani Mina bak majikan, jika ortunya nggak ada di rumah. Tapi anehnya, Mina senang-senang saja. Karena ternyata, di kampungnya, Mina terbiasa melayani ortu dan saudara-saudaranya. Dia memang ringan tangan dan mau membantu siapa saja. Akhirnya, Leahlah yang malah lebih sering uring-uringan sendiri.

Lebih menjengkelkan lagi, Daffa, cowok yang disuka Leah, malah menaruh perhatian pada Mina. Bahkan, Mina mengundangnya datang ke rumah. Leah pun kelimpungan. Bukan apa-apa, dia sudah mengaku ke semua orang kalo Mina anak pembantunya. Masa iya dia harus saingan sama anak pembantu? Gak level banget kan? Bakalan malu tujuh turunan deh!

Padahal ni ya, Leah sendiri punya penggemar setia. Adalah Rio. Yang sudah naksir Leah sejak mereka kelas satu. Tapi Leah nggak ngeklik sama Rio. Leah maunya sama Daffa. Daffanya justru cuek-cuek aja. Aaah, pusing. Eh, sekarang malah Leah punya saingan. Sepupunya sendiri lagi. Tepok jidat 7x deeh.

Rio yang menyangka kalo Mina adalah pembantunya Leah, berusaha mendekati Leah lewat Mina. Tapi kata Mina, kalo suka itu ya usaha sendiri to, jangan minta bantuan orang lain. Gitu ya? Terus caranya gimana? Tanya Rio. Hadeeeh, Mina pun menjitak Rio dengan lucu. Meski begitu, dia ngasih saran juga sama Rio. Tapi lama kelamaan, kenal dengan Mina, membuat Rio malah kayaknya jadi suka sama Mina. Walah? Piye to iki?

Tinggal Leah tambah keki. Daffa dan Rio kok jadi nempel sama Mina. Leah pun nyindir-nyindir Mina. Tapi tetep Mina dengan gaya santainya menanggapi. “Alah, kamu ini kenapa to? Aku itu belum mikir pacaran dulu. Pacarannya nanti aja, kalo sudah waktunya mau menikah.” JRENG! Bukannya sadar, Leah makin kesel dengernya.

Akan halnya Mina, yang suka diolok pembantu, malah terkesan asik-asik saja. Bukan persoalan besar menurut dia. Bahkan saat Daffa menanyakan itu, Mina mengiyakannya.

Mina sendiri mencoba memperbaiki hubungannya dengan Leah. Malah Mina tanya, “Apa sih salah aku ini, kok kamu itu kayaknya benci banget sama aku to?” Kata Leah, “Salah kamu itu, karena gaya kamu kampungan!” “Oh, gitu ya? Ya udah. Biar aku ndak kampungan dan kamu ndak malu, aku harus ngapain?” JRENG! Ditantang begitu, Leah malah bingung. Akhirnya dia pun malah mengajak Mina ke salon. Leah mendandani Mina. Bahkan merubah gaya rambut Mina. Masih cantik sih, tapi Mina jadi aneh saja. Dan saat ke sekolah, Mina malah jadi bahan tertawaan teman-temannya. Kata Mina, “Ini sementara kok. Biar Leah senang. Soalnya dia bilang dia malu penampilan aku cupu. Kalo dia sudah ndak marah lagi, aku akan balik lagi ke dandananku semula. Aku ndak nyaman sama ini.” Eh, Mina malah dapat simpati dari teman-temannya. Bahkan Leah malah dinasehatin sama Daffa kalo tidak baik memaksakan kehendak pada orang lain.

Leah pun mencari cara supaya Daffa gagal datang dan Rio nggak nguntit sama Mina. Leah selalu meminta mamanya untuk pergi dengan mengajak Mina. Awalnya Mama heran, masalahnya selama ada Mina, Leah sering uring-uringan, tiba-tiba Leah jadi begitu baik hati. Leah pun beralasan, orang  kan bisa berubah, katanya. Dan Mama setuju saja. Alhasil, Daffa memang selalu saja batal datang ke rumah, karena tiba-tiba Mina harus pergi entah ke mana.

Suatu saat Daffa nekad datang. Dan ternyata, Leah yang menemuinya. Mereka pun ngobrol bersama, hingga Leah merasa sangat senang. Dan dia meminta Daffa datang untuk kunjungan berikutnya. Dari cerita Daffa, dia suka dengan gaya Mina yang sangat sederhana. Kemeja lengan panjang dan rok di bawah lututnya sangat berbeda dengan siswi SMU kebanyakan. Apalagi gaya Korean style yang lagi happening. Mina cewek yang punya prinsip. Mina cewek unik. Mendengarnya, Leah pun punya ide. Dia yang terbiasa mengenakan rok pendek dengan kemeja ngatung, tiba-tiba memakai kemeja lengan panjang dan rok panjang semata kaki. Leah juga bersikap lebih manis seperti Mina. Tapi bukannya pujian, Leah malah diolok-olok kembaran Mina, anak pembantunya. Leah jadi tambah keki. Apalagi Daffa dan Rio, ternyata nggak bisa pindah ke lain hati.

Keadaan makin runyam, saat tiba-tiba Dina berkunjung ke rumah dan memuji-muji Mama Leah yang super baik dengan anak pembantunya. Mama Leah pun heran. Anak pembantu yang mana? Anaknya Bik Tarsih, pembantunya, laki-laki dan sudah menikah.  Mina alias Minah! Kata Dina. Mama Leah pun kaget. Saat Mama Leah tanya siapa yang bilang hal itu, dengan entengnya Dina bilang Leah. Dan begitu Dina pulang, Leah pun langsung diceramahi. Leah yang tadinya sudah mau berdamai dengan Mina, menjadi kesal karena dimarahi. Menurutnya, Mama pilih kasih. Mama lebih sayang Mina ketimbang anaknya sendiri. Padahal Mina kan menumpang di sini. Mama pun langsung marah. Lalu, Mama pun bertutur kalo mestinya Leah berterima kasih pada keluarga Mina. Kakek dan nenek Mina adalah orangtua angkat Mama, karena kakek dan nenek Leah telah meninggal sewaktu Mama Leah kecil. Keluarga Mina pula yang membiayai semua biaya hidup dan pendidikan Mama Leah hingga bisa menjadi sarjana. Leah tertegun mendengarnya. Dia belum pernah mendengar cerita itu. Setahunya, kakek neneknya memang meninggal tapi tidak dengan keluarga Mina yang telah menanam budi pada mamanya. Ah, Leah jadi malu pada Mina. Dia telah berbuat jahat dengan menilai Mina dari gayanya yang ndeso. Leah pun tanpa rasa malu mengakui kesalahannya pada Mina. Dan Mina hanya tertawa menanggapinya. Leah pun makin malu saja. Lebih malu lagi, saat Mina justru yang menyomblanginya dengan Daffa. Bahkan, Daffa yang dulu tidak pernah meliriknya, tiba-tiba bilang suka dengannya.

Tapi tunggu! Leah belum yakin itu. Dia tidak mau, Daffa suka dengannya karena Mina. Daffa harus benar-benar suka sama Leah karena memang tulus suka dengannya. Sekarang, gantian jadi PR Mina bekerja sama dengan Daffa kalau Daffa beneran tulus. Perubahan Leah menjadi lebih baik, itu pertimbangan Daffa menjatuhkan pilihan pada Leah. “Tapi bukan karena aku jadi ban serep kan?” tanya Leah. Daffa pun menggeleng malu. Karena ternyata, Daffa deket sama Mina, itu salah satu cara buat dia tahu Leah sesungguhnya. Waaaa… Leah pun tersipu malu.

Terus nasib Rio, gimana? Kata Rio, dia akan lulus kuliah dulu. Setelah itu baru melamar Mina. Itu juga kalo Minanya mau. Dan Mina pun tertawa mendengarnya. “Wis mbuh, ayo sekolah dulu aja. Biar pinter!” kata Mina dengan gaya kocaknya.



3 comments